Hi quest,  Selamat Datang  |  sign in  |  register now  |  lupa password ?

Kamis, 11 Agustus 2011

Inilah Utang Indonesia Sudah Rp 1.900 Triliun

Pahdizul.com, JAKARTA-- LSM Koalisi Anti Utang (KAU) mendesak agar pemerintah tidak lagi mengandalkan dana yang berasal dari utang luar negeri sebagai salah satu sumber untuk membiayai pembangunan di dalam negeri.
"Semakin besar kita mengandalkan utang maka akan semakin besar bahaya yang bisa berdampak pada ekonomi nasional," kata Ketua LSM Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan di Jakarta, Jumat. Menurut dia, isu utang seharusnya saat ini menjadi "debat panas" di dalam DPR karena banyak hal yang harus diperhatikan terkait hal itu.
Ia mencontohkan, hal penting yang harus dicermati terkait dengan utang adalah sejauh mana jumlah cicilan pokok dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar utang tersebut. Dani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga harus belajar dari kekisruhan dalam penentuan pagu utang AS yang sempat menjadi perdebatan hangat baik di dalam tubuh pemerintah AS maupun kongres negara itu.
"Di AS terlihat isu utang menjadi krusial tetapi di Indonesia isu utang masih belum menjadi debat politik yang panas," katanya. Sebelumnya, Kepala Biro Humas Bank Indonesia Didi A Johansyah juga menilai, total utang luar negeri Indonesia baik pemerintah maupun swasta yang terus meningkat hingga kwartal I tahun ini patut terus dicermati.
"Meski ekonomi kita stabil dan fundamental ekonomi bagus, tetapi utang luar negeri harus terus dicermati dengan mengingatkan pelaku bisnis untuk mengelola utang luar negerinya secara berhati-hati," kata Didi di Jakarta akhir Juni lalu.
Jumlah utang luar negeri Indonesia sampai kwartal I 2011 mencapai 214,5 miliar dolar AS, meningkat 10 miliar dolar AS dibanding posisi akhir 2010. Jumlah tersebut terdiri atas utang Pemerintah sebesar 128,6 miliar dolar AS dan utang swasta 85,9 miliar dolar AS.
Sedangkan rasio utang dibanding PDB saat ini 28,2 persen lebih baik dibanding 1997/1998 sebesar 151,2 persen. Sementara rasio utang jangka pendek dibanding cadangan devisa saat ini 42,6 persen lebih baik dibanding posisi 1997/1998 sebesar 142,7 persen.

Senin, 08 Agustus 2011

Kominfo luncurkan Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring meresmikan Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan menyerahkan enam unit mobile PLK kepada enam provinsi secara simbolis di Halaman Gedung Sate Bandung,
Penyerahan tersebut dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring kepada enam, yaitu Gubernur Jawa Barat, Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Jawa Timur, Gubernur Sulawesi Utara, Gubernur Sumatera Barat dan Gubernur Maluku Utara.
Dalam kesempatan tersebut Menkominfo meminta agar masyarakat bisa menjaga dan merawat Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK).
“Alhamdulilah video conference dengan warga Gegerkalong Bandung ini lancar. Saya berharap bapak menjaga dan merawat mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan. Kalau ada hujan mohon dimatiin,” Tifatul.
Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) itu berupa kendaraan roda empat yang di dalamnya terdapat lima unit komputer jinjing (Laptop) yang sudah terhubungan dengan layanan internet, televisi dan sambungan telepon.
Pusat Layanan Internet Kecamatan tersebut dirancang agar masyarakat di daerah bisa menikmati akses internet seperti masyarakat perkotaan.
“Mudah-mudahan dengan adanya PLIK ini tidak ada kesenjangan informasi antara masyarakat di daerah dan perkotaan,” ujar Tifatul Sembiring.

Smartphone bisa membuat mata cepat rusak

Penggunaan smartphone tampaknya semakin umum di kalangan masyarakat Indonesia. Tapi berhati-hati, penelitian terbaru menunjukkan smartphone bisa membuat mata pemiliknya cepat rusak.
Penelitian tersebut menunjukkan orang-orang yang membaca pesan teks atau browsing internet di smartphone cenderung memegang perangkat canggih ini lebih dekat ketimbang saat membaca buku atau surat kabar, sehingga memaksa mata bekerja lebih keras dari biasanya.`
Menurut penelitian yang telah dipublikasikan pada Optometry and Vision Science edisi Juli ini, jarak pandang yang dekat ditambah dengan ukuran huruf yang kecil pada smartphone, bisa menambah beban pada orang yang sudah memakai kacamata atau lensa kotak.
“Faktanya orang yang memegang smartphone pada jarak dekat berarti mata harus bekerja jauh lebih sulit untuk fokus. Mata harus bekerja lebih keras bisa membuat gejala seperti sakit kepala dan ketegangan mata,” jelas Dr. Mark Rosenfield, seorang profesor di SUNY State College of Optometry di New York City, seperti dilansir Healthday.
Dr. Rosenfield juga mengatakan SMS dan web browsing pada smartphone dapat membuat mata kering, ketidaknyamanan dan penglihatan kabur setelah penggunaan jangka panjang. Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa sampai 90 persen orang yang menggunakan komputer mengalami masalah mata.
Dr. Rosenfield mendapatkan ide penelitian ini karena sering melihat orang di atas kereta yang menggunakan smartphone sangat dekat dengan mata mereka. Mengingat semakin banyak orang dewasa dan anak-anak yang menggunakan smartphone untuk menulis dan menerima pesan atau mencari review restoran, masuk akal untuk mengukur persis seberapa dekat orang-orang memegang ponsel mereka.
Penelitian ini relatif sederhana. Pada tahap awal, sekitar 130 relawan dengan usia rata-rata 23,2 tahun diminta untuk memegang smartphone saat membaca pesan teks. Dalam percobaan yang berbeda, 100 peserta dengan rata-rata usianya 24,9 tahun, yang selanjutnya diminta untuk menahan smartphone mereka ketika membaca sebuah halaman web. Peneliti kemudian mengukur jarak antara perangkat dan mata serta ukuran huruf yang digunakan.
“Ketika membaca teks tercetak di koran, buku dan majalah, jarak kerja rata-rata mendekati 16 inci (40 cm) dari mata, tapi relawan penelitian yang mengirim pesan teks dengan smartphone rata-rata hanya sekitar 14 inci (35,5 cm). Pada beberapa orang bahkan sedekat 7 inci (18 cm),” jelas Dr. Rosenfield.
Sedangkan saat melihat halaman web, jarak kerja rata-rata adalah 12,6 inci (32 cm).
“Font (huruf) pada pesan teks cenderung sedikit lebih besar, rata-rata sekitar 10 persen dari huruf mencetak koran, tapi huruf halaman web hanya 80 persen ukuran cetak koran dan dalam beberapa kasus bahkan sekecil 30 persen,” kata Rosenfield.
“Tapi ada cara sederhana bagi pecandu smartphone untuk meminimalkan ketegangan mata, yaitu dengan meningkatkan atau memperbesar ukuran huruf pada perangkat Anda,” saran Dr. Scott MacRae, profesor ilmu oftalmologi dan visual yang juga ahli bedah mata di University of Rochester Medical Center.

KESEHATAN

BISNIS

OTOMOTIF